Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Enyahkan Bulu Tubuh dengan Pasta Gula

  Jika Anda biasa membersihkan bulu mengganggu dengan waxing atau pisau cukur, ada metode lain yang lebih alami, yakni sugaring. Metode ini mengandalkan pasta gula berbasis air sebagai penghilang bulu. 
Ada dua metode sugaring. Pertama, pasta pada suhu hangat ditempelkan pada area berbulu kemudian ditarik dengan strip. Kedua, area berbulu dipijat dengan menggunakan pasta ke arah pertumbuhan folikel rambut, dan secara perlahan akan mencabut bulu baru dari akar.

  Metode sugaring memang sedikit mirip dengan waxing. Tetapi ada perbedaan antara keduanya. Berikut empat keunggulan sugaring, seperti dilansir dari Beauty High :
* Alami
   Pasta gula secara umum terbuat dari bahan-bahan alami. Seperti gula, air dan perasan jeruk lemon. Beberpa formula juga mengandung pelembab atau glycerin. Ini membuat perawatan aman bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga lingkungan. Cocok untuk kulit sensitif atau yang mudah terkena alergi.

* Rasa sakit tidak terlalu besar
   Pasta gula tidak menempel pada sel-sel kulit seperti krim waxing, dan hanya menempel pada bulu. Jadi saat ditarik menggunakan strip tidak terlalu sakit. Lalu, pasta sendiri hanya dipanaskan pada suhu hangat, membuat aplikasi awal jadi lebih nyaman.

* Risiko kemerahan berkurang
   Sugaring juga salah satu metode yang bisa dikatakan sangat lembut. Biasanya memakan waktu setidaknya satu atau dua hari untuk kulit kembali normal setelah waxing. Kemerahan rasa dan rasa gatal bisa saja muncul. Tetapi dengan menggunakan pasta gula, risiko tersebut berkurang.

* Tidak terlalu berantakan
  Pasta gula sangat mudah dibersihkan dengan air. Tidak ada residu yang tertinggal setelah prosedur pengangkatan bulu. Setelah pembersihan bulu, Anda juga bisa memberikan bedak untuk mempercepat kulit dalam keadaan normal.

AIDS dan Diabetes Bisa Dideteksi Lewat Mulut

Menurut : REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA

    Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr drg Diah Savitri MSi Sp.PM, menyatakan HIV/AIDS, diabetes, hepatitis, herpes, ginjal, dan penyakit sistemik lainnya dapat dideteksi lewat rongga mulut. "Tidak banyak orang yang tahu bahwa rongga mulut dapat menjadi indikator adanya penyakit sistemik yang diderita seseorang," kata guru besar bidang Ilmu Penyakit Mulut itu di Surabaya, Kamis (17/2).
    Diah mengemukakan hal itu didampingi dua rekan sejawatnya yang sama-sama dikukuhkan pada 19 Februari yakni Prof Dr drh Nunuk Dyah Retno Lastuti MS (FK) dan Prof Dr Bambang Tjahjadi SE MBA Ak (FE). "Dokter penyakit mulut selama ini tidak dilirik masyarakat. Karena, masyarakat cenderung kepada dokter gigi atau dokter umum. Padahal, dokter penyakit mulut itu dapat mendeteksi gejala penyakit sistemik sehingga dapat dicegah lebih dini," katanya.
     Menurut Guru Besar ke-401 Unair itu, gejala penyakit sistemik itu dapat dideteksi pada rongga mulut lewat tanda-tanda seperti sariawan yang tidak sembuh selama 14 hari, bercak putih, gigi bergoyang, dan sejenisnya. "Tapi, indikasi yang tampak itu harus dibuktikan terlebih dulu lewat pemeriksaan rongga mulut secara intensif, termasuk dengan dukungan bagian lain seperti bagian penyakit dalam," katanya.
     Ia mencontohkan gigi bergoyang dalam usia masih muda seperti 20 atau 25 tahun, maka gejala itu merupakan indikasi penderitanya mengalami "diabetes mellitus" (penyakit kencing manis). "Diabetes Mellitus juga dapat diindikasikan dengan mulut terasa kering, panas, atau terbakar," kata guru besar yang akan menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Ilmu Penyakit Mulut (Oral Medicine) sebagai Jembatan yang Memfasilitasi Ilmu Kedokteran Gigi dan Kedokteran" itu.
     Contoh lain, sariawan yang tidak sembuh lebih dari 14 hari, maka penderitanya terindikasi pengguna narkoba jarum suntik, tapi bisa juga karena gejala hormonal atau stres. "Karena itu, indikasi awal tersebut masih harus diikuti dengan pemeriksaan rongga mulut, sehingga indikasi itu terdeteksi dan akhirnya dapat diantisipasi," katanya.
     Untuk gejala penyakit HIV/AIDS, indikasi yang dapat dideteksi pada rongga mulut adalah luka spesifik pada gusi. "Selasa (22/2), kami akan membuka pemeriksaan gigi dan mulut untuk pasien HIV/AIDS," katanya.
    Contoh lain lagi adalah indikasi herpes yang dapat diketahui pada bintik-bintik yang menggumpal (melenting) pada rongga mulut. Sedangkan bercak putih pada rongga mulut bisa mengindikasikan sel ganas.

Awas, Ganja Bikin Impotensi

  
      Menghisap ganja, ternyata memiliki efek negatif bagi kesehatan seksual pria. Menurut studi, pria kemungkinan besar akan mengalami disfungsi seksual.
Penelitian ini dilakukan oleh Rany Shamloul, dokter dari University of Ottawa, Queen University, di Kanada, dan juga University of Cairo, Mesir.
      Selama ini, ganja dikenal bisa meningkatkan hasrat seksual, tetapi penelitian terbaru membuktikan sebaliknya. Shamloul mengatakan orang yang menghisap ganja, di penisnya ditemukan reseptor bahan aktif. Oleh karena itu, kata Shamloul, orang muda harus berpikir ulang lagi bila ingin menghisapnya.
     Reseptor ini terdapat pada otot polos penis. Dari penelitian laboratorium menunjukkan bahwa tetrahydrocannabinol (THC) memiliki efek penghambatan pada otot, dikutip dari LiveScience.
"Ini lebih serius dari masalah disfungsi ereksi karena antara 70 hingga 80 persen penis terdiri dari otot polos," kata Shamloul.
      Penelitian pertama kali yang mempelajari ganja dan pengaruhnya terhadap seks dimulai pada 1970-an. Beberapa penelitian menemukan ganja memiliki efek "obat cinta." Pada penelitian 1982 yang dipublikasi pada Journal of Psychoactive Drugs, 75 persen pria yang merokok ganja mengatakan kehidupan seksual mereka semakin baik.
     Sementara itu, penelitian lain pada jurnal dan tahun yang sama menemukan, risiko disfungsi ereksi bisa mencapai dua kali lipat karena penggunaan ganja jenis yang umum. Penelitian lain yang menunjukkan efek dosis, di mana penggunaan ganja dalam jumlah sedikit hanya berdampak kecil terhadap disfungsi seksual, tetapi ganja bisa membuat ereksi jadi berkurang.
    Namun menurut Shamlaoul, ada beberapa masalah dalam penelitian tersebut. Itu karena belum ada penelitian yang menggunakan teknik pengukuran yang divalidasi saat melakukan survei pada pria seputar kehidupan seksual mereka.
    Hal yang menjadi perharian Shamloul yaitu penelitian yang dipublikasi 2010 dalam Journal European Urology. Dalam penelitian tersebut ditemukan reseptor untuk THC, yaitu bahan aktif yang terdapat pada ganja, di jaringan penis pada lima pasien pria dan enam monyet rhesus.